Sunday, February 1, 2009

Aku Merinduimu... Aku menyayangimu... Aku mencintaimu...

Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah.

"Wahai umatku, kita semua berada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya.” Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku. Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

"Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia.Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tetapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk. "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,

"Siapakah itu wahai anakku?"

"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah,

Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan Kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggil Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega,matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

"Jangan risau, wahai Rasul Allah. Aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: “Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan ruh Rasulullah ditarik. Seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. Ya Allah, dahsyat sungguh maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

"Ummatii, ummatii, ummatiii" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Sahabat-sahabat muslim sekalian, marilah kita renungkan kembali pengorbanan Rasulullah kepada umatnya lainnya, betapanya cintanya Rasulullah kepada umatnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.


“Tatkala membaca kisah ini, air mataku deras mengalir di pipi. Mengenang rasulullah. Begitu cintanya mendalam kepadaku, umatnya. Aku merinduimu rasulullah. Aku merinduimu, aku cintakanmu ya rasulullah. Aku cintakanmu. Aku sayangkan mu rasulullah. Aku sayangkan mu. Aku merinduimu rasulullah, aku merinduimu. Ingin sekali aku berjumpa denganmu walaupun hanya menziarahi makam mu. Hatiku luluh, tak tertahan menahan sebak mengenangkan saat pemergiaanmu. Walaupun jurang masa antara kita sangat jauh berbeza, namun aku berasa begitu dekat dengan kasih mu rasulullah. Begitu besar kasih sayang yang kau tunjukkan kepada umatmu”

Ya Allah…

Ya Rahman...

Ya Rahim…

Kau berikanlah aku kesempatan untuk bertemu dengan kekasihMu,

Merasai cinta kekasihMu,

Mengecapi rasa bahagia saat bersua dengan kekasihMu...

3 comments:

Abuuwais said...

Assalamulaikum...
Selalulah berdoa...moga allah segerakan diri lita utk menziarahi baginda. Ingatlah satu hadis sesiapa menziarahiku sewaktu musim haji dalah seperti dia menziarahiku semasa akau hidup. pergilah...nanti anta akan merasai kehangatan cinta kita pada kekasih allah itu.Muhammah. Pergilah...pergilah...
ikutilah jalan dakwahNya,,, sunnahNya...perjuanganNya...berselawatlah kepadanya selalu...nescaya kehangat cinya itu akan semakin segar...

syabab islam said...

waalaikumusalam..
insya'allah baba, ana akan pergi.. rasa rindu saat membaca kisah kekasih allah sentiasa menyentuh hati ini... saat baba menceritakan tentang kekasih allah, hati ini begitu hangat dengan cintanya.. insya'allah ana akan pergi bila tiba masanya nnt..

lin said...
This comment has been removed by a blog administrator.

SYABAB,
Lahirmu bagaikan tak berharga,
Kau anak desa, yatim tak berbapa,
Kesusahan hidup mendesakmu berdikari,
Dalam keliru kau mencari identiti diri,
Ketulusan jiran mengajarmu kehidupan,
Cabaran berterusan sebuah kematangan,

Wahai SYABAB,
Ketekunanmu mengoborkan cita-cita,
Semangatmu bak api marak menyala,
Kau pemuda harapan,
Sinar menantimu di hadapan,
Bebaskanlah pemuda,
Dari belenggu kejahilan,
Kau mampu berlari kencang,
Mencipta Gelombang,
Ayuh, SYABAB!


-Fatimah Syarha-syabab musafir kasih